Pengetahuan Umum Buddhis – Path 4.Alat Kebaktian

Auditorium Altar

Didalam aula utama / Dharmasala sebuah vihara Mahayana terdapat meja altar yang selalu digunakan setiap hari pagi dan sore untuk beritual memanjatkan sutra-sutra suci / chanting yang dipimpin oleh anggota sangha dan diikuti oleh seluruh penghuni vihara maupun uamt Buddha lainnya. Dalam meja altar tersebut tidak akan pernah tertinggal / terlupakan Gong, karena seorang bhiksu atau umat yang memegang atau berdiri disamping gong adalah pemimpin kebaktian atau disebut sebagai WEINO dan yang berdiri didepannya disebut sebagai YUEZHONG karena dia bertugas dalam mengendalikan MukYi.

  • GONG

GongGong adalah sebuah alat sembayang yang terbuat dari tembaga, mempunyai posisi sebagai kepala dari semua alat. Dong dipegang oleh seorang pemimpin yang disebut Weino (维那wéi nà), jika pada masa lalu yang berhak menjadi weino adalah mereka para bhiksu sesepuh dalam vihara , agaknya tradisi tersebut sudah mulai berubah, dijaman dewasa ini semua orang bisa menjadi weino. Syarat utamanya adalah mempunyai suara yang merdu dan dapat bernyanyi dengan benar, ditambah lagi harus piawai dalam mengendalikan Gong sebagai factor penting dalam sebuah upacara Mahayana.

Gong memegang peranan penting dalam sebuah upacara Mahayana, jika seorang weino memukul gongnya berarti pertanda upacara akan dimulai dan semua alat sembayang yang lain juga harus mengikuti irama yang dilantunkan oleh sang weino. Jika weino memukul gongnya 2 kali secara berturut-turut berarti waktunya lantunan gatha sutra diselesaikan. Saat gongnya ditekan dengan suara kecil maka sang weino sudah bersiap untuk mulai melantunkan nada gatha dalam sutra.

  • MUKYI

MukyiSedangkan Mukyi adalah sebuah alat sembayang yang menduduki nomer 2 setelah gong, karena jika gong adalah pemimpin maka Mukyi adalah pengiring utama. Mukyi dipegang oleh seorang yang disebut sebagai YueZhong (悦众yuè zhòng). Yuezhong mempunyai tugas berat untuk mengiringi pelantunan gatha sepanjang upacara.

Meskipun bentuknya yang merupakan seekor ikan yang besar dan harus selalu dipukul , namun sesungguhnya bukanlah sebuah penyikasaan terhadap makhluk hidup. Mukyi dibuat dari kayu yang besar kemudian dibentuk menjadi seekor ikan yang mempunyai makna sebagai peringatan kepada para murid Buddha untuk tidak lengah, ibarat mata ikan yang selalu terbuka siang dan malam , mengingatkan umat manusia untuk selalu waspada dengan tindakan diri sendiri dan berusaha untuk mengikis kemalasan yang menjadi hambatan utama sebuah kesuksesan. Seperti filosofi seekor ikan yang tidak pernah tidur / matanya selalu terbuka maka dari hal itulah kita harus belajar untuk mengikis kemalasan dan ketidak-waspadaan terhadap diri sendiri.

Mukyi dipukul untuk pertama kali / permulaan harus berdasarkan pada kata-kata berikut :

若  人  欲  了  知  三  世  一  切  佛…佛…佛…佛…佛……

Ruò rén  yù   liao   zhī  sān  shì    yí    qiè   fó … fó …  fó … fó …  fó…..

 

Yang bermakna : jika seseorang hendak mempelajari Buddha dari 3 masa kehidupan, maka hendaknya memahami bahwa segala sesuatu berasal dari pikiran.

Untuk itu selain sebagai sebuah alat dalam upacara sembayang Mahayana , Mukyi tetap memegang peranan penting sebagai sebuah pengingat bagi umat manusia untuk selalu waspada terhadap diri sendiri, mengendalikan tingkah laku agar sesuai dengan jalan Dharma dan tidak pernah bermalas-malasan layaknya seekor ikan yang tak pernah mengedipkan mata sepanjang hidupnya.

  • KECHE & TANGCHE

KecheTangChe

 

 

 

 

 

 

Dalam tata cara upacara Mahayana, kheche dan tangche adalah sepasang alat yang tidak dapat dipisahkan. Kheche adalah sepasang lempengan yang hampir mirip piring terbang kembar yang dipukul bersama dengan tangche. Kheche dipukul sejajar dengan perut dengan posisi kheche kanan atas dan kiri dibawah. Sedangkan tangche dipukul sejajar dengan muka, layaknya seorang yang sedang berkaca. Kedua alat ini merupakan perpaduan alat music tradisional kontemporer Tiongkok yang sering muncul dalam barongsai, opera , dsb, yang kemudian diadopsi dalam tata cara upacara Buddhisme Mahayana.

  • YINCHING

YingChingSatu-satunya pengiring yang memimpin orang-orang yang melakukan ritual upacara Mahayana adalah Yinqing. Keberadaannya meskipun seringkali tidak dirasakan namun saat kurang satu ketukan suaranya maka atmosfer upacara pun akan berubah. Yinqing adalah jenis lain dari gong yang mempunyai nama lain DaQing (大磬dà qìng) karena pada dasarnya keduanya memang mempunyai misi yang sama yakni sebagai komando yang memberikan aba-aba namun bentuk Yinqing jauh lebih kecil dan mudah dibawa atau dikendalikan oleh siapapun.

 

  • PENDUPAAN

PendupaanDidalam sebuah altar Mahayana terdapat sebuah benda yang terbuat dari Kristal, logam ataupun porselen yang berkaki tiga, benda yang lebih dikenal sebagai pendupaan ini sudah ada sejak masa manusia mengenal cara mengolah besi didalam sejarah kehidupan masa lalu Tiongkok. Pada masa kini keberadaan tungku bulat berkaki tiga ini lebih umum dipasang ditengah keagungan altar Mahayana.

Pada umumnya pendupaan besar hanya diletakkan didepan pintu gerbang vihara yang dapat digunakan oleh semua umat yang datang untuk sembayang. Sedangkan pendupaan kecil diletakkan ditengah altar Buddha dan hanya dinyalakan saat kebaktian oleh anggota Sangha. Dalam sepuluh persembahan, dupa menempati urutan pertama yang melambangkan keharuman Dharma memberikan wewangian kesegala penjuru.

Setiap umat Buddha harus mengerti cara memasang dupa yang benar, karena pemasangan dupa merupakan sebuah tata cara awal dalam ritual divihara. Pada umumnya memasang dupa hanya berjumlah 3 batang sebagai lambang dari triratna (Buddha, Dharma dan Sangha) namun ada sebagian orang yang lebih memilih praktis hanya dengan memasang satu biji saja. Bagi sekelompok orang menyalakan dupa 2 batang berarti dalam keadaan berbela sungkawa / hanya untuk kematian. Jadi mempersembahkan 3 batang dupa berarti menghormati Triratna. Tusukan pertama pada umumnya diletakkan dibagian kiri , kemudian kanan dan terakhir tengah sama halnya dengan gerakan sumpit pertama saat makan. Saat memasang dupa biasanya mengucapkan ikrar :

愿断一切恶                  à bertekad memutuskan semua kejahatan

Yuàn duàn yí qiè è

愿修一切善                  à bertekad melatih semua kebaikan

Yuàn xiū yí qiè shàn

誓度一切众生            à bertekad menolong semua makhluk

Shì dù yí qiè zhòng shēng

Dalam acara ritual pertobatan ataupun pelimpahan jasa besar tahunan, tidak jarang ditemukan adanya sebuah tradisi mengangkat tungku dupa yang biasa disebut deng PongLuk (捧炉). Masuknya Pongluk ini bertujuan sebagai pertanda acara kebaktian besar dimulai dan ketika pongluk mulai diangkat keluar maka pertanda kebaktian persesi dupa telah berakhir dan akan dimulai saat para anggota sangha memasuki aula diiringi dengan masuknya pongluk tersebut.

  • YUNBAN

YunbanPada zaman kuno, didalam sebuah vihara besar, hampir disemua ruangan terdapat masing-masing kayu yang digantung sebagai pertanda bunyi. Kayu – kayu pertanda bunyi tersebut digantung untuk tujuan yang tidak sama dan dengan cara pukul yang berbeda. Untuk itu juga terdapat berbagai macam nama dari kayu papan tersebut seperti : papan panjang, papan meditasi, papan panggilan makan, papan panggilan mencuci kaki , dsb.  Papan pada masa lampau dipukul pada pagi hari jam 3 setelah usai tambur, kemudian semua tempat ruangan vihara yang terdapat papan tersebut dipukul secara serentak untuk membangunkan semua orang divihara untuk memulai kegiatan dalam sehari tersebut. Namun kemudian seiring dengan perkembangan zaman dan tradisi didalam kehidupan vihara, maka papan panggilanpun berubah fungsi hanya untuk tanda  panggilan saat akan makan saja dan yang awalnya terbuat dari kayu saat ini lebih banyak terbuat dari logam tembaga.

  • XIANGBAN

Xiangban Adalah salah satu alat zen yang tidak pernah tertinggal dan dilupakan didalam aula meditasi. Papan ini disebut sebagai xiang ban 【香板】yang berarti papan cendana , namun bukan untuk sembayang karena ada unsur wanginya / dupa melainkan untuk membimbing para praktisi meditasi / zen yang tidak tenang, tidak konsen pada saat latihan meditasi.

XiangBan
Menurut cerita yang tertulis, xiang ban atau pedang pencerahan ini berasal dari zaman dinasti Qing pada masa raja yang ketiga dengan nama kaisar Kang Xi , beliau adalah seorang kaisar yang memerintah paling lama pada masa itu, karena sejak 8 tahun sudah naik tahta dan menjadi raja dengan didampingi oleh 4 orang walinya. pada masa itu sang raja pernah menganugerahkan sebuah gelar kehormatan kepada seorang bhiksu yang dianggap sebagai guru diseluruh negeri maka disebutlah bhiksu tersebut dengan nama yu lin guo shi 【玉琳国师】yang berarti dia adalah seorang bhiksu yang menjadi guru bagi seluruh negeri pada waktu itu.

Pada saat sang maha bhiksu memasuki parinibana / wafat , kaisar Yong Zheng 【雍正帝】sebagai raja ke-4 penerus tahta ayahnya beniat mencari generasi penerus dari maha bhiksu tersebut. Akhirnya setelah melakukan pencarian oleh para utusannya , beliau berhasil menemukan seorang bhiksu dengan penyakit dikepalanya yang mengaku sebagai murid laangsung dari maha bhiksu yu lin . karena hendak membuktikan apakah benar dia telah mencapai pencerahan / satori maka dikurunglah bhiksu itu didalam sebuah kamar selama tujuh hari dan diluar pintu digantung sebuah pedang emas dan memperingatkan jika dalam 7 hari tidak mencapai satori maka pedang itu akan memotong kepalanya. Akhirnya hari demi hari berlalu , dan sampai hari ke7 dia belum juga mencapai satori . maka dia memohon grasi / pengampunan  agar sang kaisar bersedia menambah 7 hari lagi akhirnya sang kaisar menyetujui. Dan hal yang sama juga terulang, sampai pada akhirnya dihari yang ke 14 dia seketika mencapai satori (pencerahan) dan berteriak :

“ en! Mana pedangnya , akan kupotong kepala sang kaisar!!!”

Penjaga istana segera melapor ke kaisar , dan pada saat itu kaisar berpikir bahwa bhiksu itu telah mencapai pencerahan karena berani berteriak dan memaki raja.

Sampai saat ini bentuk dan kegunaan pedang tersebut masih sama yang berubah hanya bahannya dari kayu dan hanya digunakan untuk memperingatkan agar para praktisi meditasi zen tidak goyah pikirannya , atau mengantuk pada saat meditasi.

  • FUCHEN

Fuchen dalam bahasa Indonesia berarti kipas penghapus debu. Namun jika dilihat dari bentuk dan strukturnya, Fuchen adalah Fuchensebuah alat yang digunakan sebagai pengusir serangga agar tidak terjadi pembunuhan terhadapnya dan juga sebagai sebuah pelatihan kesabaran. Namun jika dilihat asal mula hubungannya dengan agama Buddha, fuchen lebih cenderung pada sebuah peralatan yang digunakan pada saat pembabaran Dharma singkat pada saat melaksanakan kebaktian persembahan makanan siang yang dilanjutkan dengan ShangTang. Fuchen terbuat dari bulu ekor kuda, rusa atau bahan lain yang kemudian diikat dalam sebuah tongkat ukuran sedang sebagai pemegangnya. Sama halnya dengan alat sembayang yang lain, Fuchen mempunyai makna sebuah alat yang digunakan untuk menyapu bersih kilesa dan kekotoran batin umat manusia, maka pada saat umat bernamaskara Fuchen dikipaskan sebagai pertanda sebuah doa dan harapan agar kilesa para umat manusia terkikis dan mampu menjalankan ajaran Dharma serta mencapai keBodhian.

 

  • XIZHANG

XiZhang adalah alat yang dibawa oleh sangha sebagai benda suci, para bhiku membawa xi zhang saat sedang menerima persembahan  makan [pindapata] ,hanya dengan membunyikan xi zhang dengan membenturkan ditanah sebanyak 3 kali berarti mengundang pemilik rumah yang didatangi rumahnya untuk keluar dan berdana makanan.jika sang pemilik rumah tidak keluar hendaknya dia pergi kerumah lain dan tidak berusaha membuat perhatian lebih untuk mengundang pemilik rumah berdana kepadanya. Xi zhang sebenarnya mempunyai 3 maksud untuk dibawa :

  1. Untuk mengusir serangga yang dijalan agar tidak terinjak oleh pertapa / bhiku yag lewat.
  2. Untuk membantu rahib yang lanjut usia saat berjalan agar tidak kelelahan.
  3. Untuk menjaga diri sebagai bentuk pembelaan diri saat suasana yang genting

Xi zhang [錫杖] berasal dari bahasa sansekerta “khakhara”atau”hikhara”yang berarti tongkat bersuara. Xizhang biasanya terdiri dari kalung besar dan antingnya [gelang yang lebih kecil]. Tongkat ini pada bagian atasnya terbuat dari timah [錫], pada bagian tengahnya tebuat dari kayu ,dan bagian bawahnya terbuat dari gading maupun tanduk. Para bhiku membawa xi zhang pergi saat mengadakan perjalanan atau berkelana kesuatu tempat maka disebut fei xi [飛錫] / xi zhang yang digunakan untuk perjalanan, sedangkan xi zhang yang diam ditempatnya disebut liu xi “留錫”/ xi zhang yang diam atau gua xi“掛錫”/ xi zhang yang digantung,  saat keluar menyebarkan dharma xi zhang yang dibawa disebut xun xi [巡錫]/xi zhang yang dibawa saat berkeliling.

Pada saat upacara sacral buddhisme dilaksanakan juga biasanya menggunakan xi zhang yang berukuran pendek. Satu sisi memegang xi zhang seraya menyanyikan mantra pujian buddhis [Buddhis chanting ]. Pada bagian atas xi zhang juga biasanya dihiasi dengan berbagai macam hiasan tambahan agar tampak lebih anggun.

Dalam suatu kesempatan Buddha mengatakan :“ para bhiku seharusnya memnggunakan xi zhang ,kenapa? Para Buddha dimasa lalu , saat ini dan yang akan datang juga memegangnya. Xi zhang juga disebut “tongkat kebijaksanaa”[智杖], menunjukkan manifestasi dari kebijaksanaan para Buddha [prajna].juga disebut “tongkat kebaikan”[德杖], yang merupakan awal sebuah kebaikan . sebagai lambing kesucian, mengingatkan pada kebijaksanaan , merupakan sebuah tanda untuk mencapai kesucian [nirvana] .

kasyapa bertanya kepada buddha  : apakah xi zhang?

Buddha berkata :”logam timah [錫] yang ringan dengan tongkat nya untuk bersandar, menghapuskan kekotoran batin, membebaskan dari 3 alam kehidupan. Sinarnya terang memberikan penerangan kebijaksanaan. Membangunkan dari kekosongan derita agar mencapai penmbebasan. Tongkat logam yang tipis , memotong lima nafsu keinginan [kekayaan, nafsu sex, makanan – minuman, pangkat, kenyamanan tidur].

Ujung tongkat terdiri dari 2 bagian kalung besar yang mempunyai 6 anting[gelang kecil] adalah aturan pada zaman Buddha kasyapa.dibuat dengan 2 bagian kalung besar untuk mengingatkan makhluk hidup agar selalu ingat akan 2 perenungan [paramattha-sacca / kebenaran umum, sammuti-sacca / kebenaran mutlak]

Adapula yang terdiri dari empat bagian yang mempunyai 12 gelang kecil adalah aturan pada masa Buddha sakyamuni. Dibuat dengan 4 bagian sebagai symbol untuk memutuskan 4 kelahiran, mengingatkan 4 perenungan tentang dukkha , tidak membedakan 4 kasta, memasuki 4 samadhi. Sedangkan 12 gelang kecil sebagai pengingat akan 12 sebab akibat.

Ada beberapa aturan mengenai perihal pemakaian xi zhang ini, antara lain :

  1. Tidak diijinkan membawa nya menuju kerumunan orang
  2. Setelah tengah hari tidak boleh dibawa lagi
  3. Tidak boleh dipanggul
  4. Saat bertemu dengan rupang Buddha tidak boleh mengeluarkan suara
  5. Tidak boleh menunjuk orang lain dengan xi zhang
  6. Tidak boleh menulis ditanah menggunakan xi zhang
  7. Tidak boleh dengan tangan yang tidak bersih memegang xi zhang
  8. Saat kerumah orang untuk menerima dana makanan harus membunyikan xi zhang sebanyak3 kali jika tidak ada yang menanggapi membunyikan lagi 5 kali, dan 7 kali. Jika masih tidak ada yang mendengar harus berpindah kerumah lain.
  9. Bisa digunakan untuk menakuti anjing liar dan binatang buas lainnya.
  10. Saat melakukan perjalanan dihutan belantara maupun digunung dan tempat lain dan bertemu dengan ular berbisa ataupun binatang pemangsa dengan membunyikan tongkat ini dapat membuat makhluk tersebut pergi.

Bagian – bagian Xizhang :

Bagian Xizhang

 

  • VAJRA

Vajra adalah salah satu alat kebaktian dalam tradisi tantrayana. pada awalnya berasal dari zaman india kuno. menurut cerita Vajra Alatvajra ini berasal dari sisa tulang seorang dewa yang berubah menjadi vajra setelah kematiannya, kemudian oleh sakkha deva indra digunakan sebagai senjata perang. tradisi tantrayana menggunakannya sebagai simbol kebijaksanaan yang kuat dan tajam, dapat menghancurkan kilesa [kekotoran batin] , mara [setan penggoda] , maka dari itu vajra menjadi simbol kebijaksanaan yang dimiliki oleh Buddha, kebenaran sejati, dan sifat sunyata [ kekosongan] .

Double vajra merupakan gabungan bentuk dari dua buah vajra yang saling bersilangan. dikeempat sisinya yang tajam mempunyai warna yang berbeda dengan lambang masing – masing :

 

lambang vajra

  • Putih = membebaskan dari mara, menghapuskan dari segala penyakit, derita dan gangguan lain dalam meditasi.
  • Kuning = usia , rejeki , sumber kekayaan , nama baik dan kekuasaan serta berbagai macam kemajuan , pengetahuan, kemampuan, pelatihan diri serta kebijaksanaan yang seperti matahari terbit dari sebelah timur menyinari hari.
  • Merah = berkumpulnya harta dan kekuatan dari alam dewa, setan dan manusia.
  • Hijau = terhindar dari derita dialam bentuk [rupa dhatu] dan tidak berbentuk[ arupa dhatu] , menghancurkan segala mara dan rintangan dalam melatih diri.

Vajra ini merupakan senjata terkeras yang mempunyai makna mampu menghapuskan kilesa / kekotoran batin umat manusia. Membersihkan samadi dan menghancurkan rintangan dalam melatih diri. Menghalau musuh penagih hutang karma dari masa lampau dan mendatangkan segala macam keberuntungan. Vajra melambangkan samadi yang tidak tergoyahkan.

  • NISIDANA

Nisidana adalah peralatan para bhiksu yang biasanya digunakan sebagai alas duduk , tidur , atau pun saat bersujud . maksud Nisidanadari penggunaan nisidana adalah untuk melindungi atau memberi alas agar pakaian / jubah dan tubuh para sangha tidak terkotori oleh debu dan kotoran lainnya . Sama halnya dengan sila yang melindungi diri mereka yang melatih diri agar terbebas dari kelahiran yang menderita .

Nisidana terbuat dari bahan kain lusuh dan biasanya berwarna merah tua , hijau tua dan coklat maupun warna lumpur .mempunyai ukuran panjang yang tidak sama / disesuaikan dengan ukuran tubuh penggunanya. Zaman dahulu ukuran nisidana bertolak pada ukuran uluran tangan hyang Buddha [sekitar 78 cm ] . Dengan beralaskan nisidana para bhiksu menghormat hyang Buddha atau guru sesepuh dan sekaligus sebagai leluhur mereka.

 

  • PILUMAO / Topi Vairocana Buddha

PilumaoTopi Vairocana adalah sebuah sebuah perlengkapan yang pada umumnya dipakai oleh seorang bhiksu pemimpin upacara Mengshan , Yankou maupun persembahan untuk para dewa dan bodhisattva.  Pilumao ini merupakan topi yang dihiasi dengan Panca Dhyani Buddha pada sisi atasnya, kemudian terdapat 2 buah gantungan kain bertuliskan mantra 6 suku kata (Om Mani Pad Me Hum) dibagian samping kanan-kiri dibawahnya sejajar dengan teling pemakai. Pilumao hanya dipakai dalam upacara tertentu oleh para pemimpin upacara yang biasanya merupakan upacara persembahan bagi para dewa maupun para makhluk dialam sengsara.

Disebut sebagai Panca Dhyani Buddha karena terdapat 5 Buddha dengan karakteristik masing-masing sebagai lambang keagungan pelatihan dirinya. Kelima Buddha tersebut pada umumnya dapat dilihat pada bagian atas pilumao dengan Vairocana sebagai pusatnya, maka topi tersebut pun disebut sebagai Pilumao atau topi Vairocana dengan Buddha Vairocana sebagai pusat semua Buddha :

 

Buddha Nama Arah Warna Keterangan
 Aksobhya Buddha 阿閦佛

Aksobhya Buddha

Timur Hijau Mantra Buddha :

ong a bie zha zhi ga hong hong

唵 阿 别 炸 枝 嘎 吽 吽

Pada bentuk yang tertulis didalam literature Tantrayana Aksobhya Buddha duduk diatas singgasana yang dipikul oleh 8 ekor gajah sebagai lambang kekuatan pelatihan diri Nya dalam menaklukkan mara yang terkuat sekalipun.

 

 Ratnasambhava 寶生佛

Ratnasambhava

Buddha

Selatan Merah Mantra Buddha :

ong a lie na qu ga suo hong

唵 阿 列 那 取 嘎 梭 吽

Ratnasambhava Buddha duduk diatas singgasana teratai yang dipikul oleh 8 ekor Kuda sebagai perlambang kekuatan Nya dalam menakhlukan keAkuan. Buddha ini mengabulkan doa & permintaan umat manusia yang dengan tulus & rendah hati memuja namaNya.

 Amitayus Buddha 阿彌陀佛

Amitayus Buddha

Barat Putih Mantra Buddha :

ong a ya luo lie ga a hong

唵 阿 亚 洛 列 嘎 阿 吽

Amitabuddha duduk diatas singgasana teratai yang dipikul oleh 8 ekor burung merak sebagai lambang dapat menakhlukkan keserakahan atas segala kondisi indah didunia. karena merak merupakan sebuah simbol objek yang indah.

 Amoghasiddhi 不空成就佛

Amoghasiddhi

Buddha

Utara Hitam Mantra Buddha :

ong a jian zha dia ga ha hong

唵 阿 煎 炸 嗲 嘎 哈 吽

Amoghasiddhi Buddha duduk diatas singgasana yang diangkat oleh 8 binatang sejenis sapi, mempunyai sebuah makna yakni dapat menakhlukkan kecemburuan dan kebencian. karena sapi pada umumnya adalah binatang yang suka berebutan, sehingga lambang ini menunjukkan keagungan Buddha.

Vairocana Buddha 毗盧遮那佛

【大日如来】

Vairocana Buddha

Tengah Kuning Mantra Buddha :

ong a zhi na zhi ga ong hong

唵 阿 枝 那 枝 嘎 唵 吽

Vairocana Buddha duduk diatas singgasana Teratai yang diangkat oleh 8 ekor singa sebagai lambang kesempurnaan dalam pelatihan diri dan telah mencapai kebijaksanaan tertinggi sebagai manifestasi dari semua kondisi dan seluruh kebijaksanaan yang dimiliki oleh semua Buddha  didunia.

  • PATRA

Pada zaman kehidupan Buddha,  Patra adalah sebuah alat makan yang tidak dapat ditinggal dalam keseharian hidup seorang Samana. Bahkan disebutkan dalam sebuah syair :

“一钵千家饭、孤僧万里游 à Satu patra nasi berasal dari ribuan rumah umat , untuk sedemikian diperlukan perjalanan yang jauh mencarinya seorang diri.”

Seperti yang tertulis jelas didalam Sutra Intan, Hyang Buddha dalam keseharian hidupNya selalu berjalan memimpin 1250 orang Bhiksu muridnya untuk berkeliling kota menerima dana makanan (Pindapatta).  Untuk itu terlihat jelas arti penting dari patra sejak zaman Buddha pun sudah dipergunakan oleh para sesepuh.

PatraPatra pada mulanya adalah persembahan yang diberikan oleh 4 maharaja dewa saat Hyang Buddha baru mencapai penerangan sempurna. Saat awal mula mencapai keBuddhaan datanglah dua orang saudagar yang ingin memberikan dana makanan kepada Hyang Buddha. Namun dalam sejenak Buddha berfikir : “jika zaman dahulu semua Buddha menerima persembahan makanan dengan menggunakan Patra , maka dengan apakah Aku harus menerimanya?”

Sesaat setelah terlintas pikiran tersebut tiba-tiba muncul 4 Maharaja dewa datang untuk mempersembahkan Patra , namun Hyang Buddha menolak dengan alasan seorang Samana tidak diperbolehkan menyimpan barang seperti itu. Kemudian dewa tersebut terus menerus mempersembahkan Patra dari bahan yang berbeda (Perak, batu lazuli, batu manao, kaca, mutiara merah , dsb) secara berturut-turut namun Buddha tetap saja menolak. Kemudian dewa tersebut mempersembahkan Patra yang terbuat dari batu , akhirnya Buddha menerimanya kemudian menggabungkan 4 patra menjadi satu. Buddha menerima persembahan tersebut karena beliau menyadari bahwa hal tersebut adalah buah karma baik dari masa lampau hingga 4 maharaja deva pun datang mempersembahkan patra kepadaNya.

Pada umumnya, menurut Vinaya Patra yang digunakan harus memenuhi 3 syarat :

  1. Dibuat hanya dari bahan tanah liat dan besi , tidak boleh menggunakan emas, peras, Lazuli, tembaga, kayu, batu, dll.
  2. Hanya boleh menggunakan warna merah tanah, hitam dan abu-abu.
  3. Harus dengan ukuran tertentu, sesuai dengan standar makan untuk semua orang, tidak terlalu besar maupun terlalu kecil.

Ukuran Patra pada umumnya sesuai dengan aturan Vinaya, mengenai hal-hal lain yang berhubungan dengan perubahan / penambahan bentuk atau warna harus melalui permusyawaratan para guru Vinaya dalam mengambil keputusan. Bentuk Patra sama untuk seluruh samana, dengan bagian atas berlubang sebagai tempat sayur dan makanan Pindapatta.

Menurut sejarah, Patra yang dimiliki oleh Hyang Buddha kemudian diwariskan kepada Y.M. Bhiksu Kassapa dari negeri India kuno sebagai generasi ke-2 Zen, kemudian sampai pada Y.M. Master Bhiksu Bodhidharma sebagai generasi ke-28 yang berkelana menyebarkan Buddha – Dharma Zen di China. Patra dari Hyang Buddha pun tetap diwariskan sampai pada generasi ke-6 guru Zen negeri China. Setelah generasi ke-6 Master Hui Neng tidak lagi mewariskan Patra tersebut.

 

Artikel Oleh : YM.  Sakya Vaipulya Virya –

3 Comments

Add Yours
  1. 1
    Hendry Koeinata

    師父,阿彌陀佛,
    青山無語嘆人亡,
    草露風燈閃電光,
    人歸何處青山在,
    總是南柯夢一場。
    Artinya apa ya, Suhu? Bisa diterjemahkan tidak baris demi baris? Thanks ya, Suhu…

    • 2
      Dharma Ditthena

      _()_ Namo Buddhaya,
      berikut saya mencoba kutip jawaban dari -YM. Sakya Vaipulya Virya-

      青山無語嘆人亡
      Gunung yang hijau ikut bersedih atas kematian orang,

      草露風燈閃電光
      Embun di rerumputan cahaya pelita terhembus angin semua berlalu dengan cepat,

      人歸何處青山在
      Semua orang pada akhirnya akan kembali, gunung hijau tetap ada ditempatnya,

      總是南柯夢一場
      Semua hanyalah seperti mimpi yang berlalu.

      Arti dari puisi diatas: (kutipan dari YM. S.Chuan Pau)
      Baris 1 & 2: (Anicca)
      1, Gunung hijau puisi diatas menggambarkan Tempat pemakaman.
      2, Menunjukkan bahwa semua kondisi akan hilang dan tidak kekal.
      Baris 3: (Dukkha)
      Kehidupan ini akan berakhir.
      Baris 4: (Anatta)
      Semuanya hanya sementara, tanpa-aku

      Didalam puisi diatas menggandung arti Tilakkhana(Tiga Kesunyataan Mulia) sbb :
      Anicca (Ketidak kekalan)
      Dukkha (Penderitaan)
      Anatta (Tanpa Aku)

      *Tambahan dari Sdra Bensu
      Perenungan untuk keseluruhan puisi :
      Kehidupan manusia yang berlalu dengan cepat,
      Apa yang bisa kita bawa saat kita menemui ajal, masuk kuburan?
      Dalam kehidupan mana yang benar benar nyata atau kekal?
      Mana yang kekal dari kebahagiaan, marah, benci, cinta?
      Intinya anicca, dukkha anatta.

      Semoga dapat membantu by : Dharma Ditthena

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *