Pengetahuan Umum Buddhis – Path 3.Pesamuan Agung

Pesamuan Agung Avatamsaka

AvatamsakaTiga Makhluk Suci dari pesamuan Avatamsaka adalah Vairocana Buddha yang didampingi oleh dua pembantu Dharmanya. Vairocana mempunyai makna seorang Buddha dengan tubuh Dharmakaya yang luas menyebar kesegala arah juga dimaknai sebagai cahaya terang yang menyinari alam semesta tanpa batasnya. Didalam altar Vihara Mahayana Vairocana Buddha didampingi oleh Manjushri Bodhisattva yang berada disebelah kiri Hyang Buddha sedangkan Samantabhadra Bodhisattva diletakkan disebelah kanan Buddha. Ketiga makhluk suci ini merupakan perwujudan dari isi yang tercantum didalam Sutra Bunga Lotus yang dibabarkan oleh Hyang Buddha terakhir kali sebelum mencapai Nibana (Saddharmapundarika Sutra).  Vairocana Buddha adalah mempunyai pelatihan diri yang sempurna berdasarkan pelaksanaan teori dan kebijaksanaan agung sehingga ditempatkan ditengah-tengah alltar. Vairocana adalah bentuk penjelmaan tubuh Dharmakaya dari Sakyamuni Buddha. Vairocana Buddha berada ditengah-tengah yang merupakan pusat dari alam semesta dan bentuk utama dari seluruh Buddha.

Manjushri Bodhisattva

Manjushri BodhisattvaManjushri Bodhisattva mempunyai makna sebuah kebijaksanaan yang sempurna, dengan pandangan benar mampu melihat keBuddhaan didalam dirinya, mempunyai tubuh Dharmakaya yang sempurna, prajna (kebijaksanaan) dan pencerahan. Sutra Lotus adalah sutra terdalam dan terluas yang dibabarkan Hyang Buddha terakhir kalinya maka disebut sebagai Raja dari semua Sutra Buddhis. Banyak guru besar dimasa lalu yang menjalankan pelatihan diri berdasarkan sutra ini. Translatetan terlengkap pernah ditulis oleh master Kumarajihva pada masa dinasty Qin dan digunakan luas sampai masa sekarang ini. Menurut cerita sejarah Sutra Lotus pernah dibabarkan oleh seorang Buddha yang sebelum meninggalkan kehidupan duniawi beliau adalah seorang raja. Kemudian setelah mencapai keBuddhaan , 8 orang anaknya pun mengikuti jejaknya dan menjadi muridnya sendiri. Diantara banyak muridnya, MiaoKuang lah yang akhirnya mencapai pencerahan dengan kebijaksanaan sempurna. Kemudian dengan kebijaksanaannya mengajarkan 8 anak raja yang menjadi pertapa tadi. Menurut sejarah dari ke-8 pangeran tadi, anak terakhirlah yang kemudian menjadi Buddha dan dikenal sebagai Buddha Dipankara. Sedangkan Dipankara Buddha adalah guru dari Sakyamuni Buddha , maka para guru besar dimasa lampau sering menyebut Manjushri sebagai guru 9 generasi dari Sakyamuni Buddha. Namun pada masa Sakyamuni Buddha beliau tetap saja bersedia menjadi pengikut Hyang Buddha.

Manjuhsri Bodhisattva pada umumnya digambarkan/diukirkan dengan posisi duduk diatas Singa sebagai lambang kewibawaan dengan kesempurnaan prajna dan pelatihan diri. Ditangan kanan pada umumnya memegang pedang sebagai symbol pedang yang mampu menghancurkan segala macam kebodohan batin, ataupun Ruyi yang menjadi symbol kesempurnaan dari kebijaksanaannya; pada tangan kiri biasanya memegang buku sutra yang menjadi symbol kebijaksanaan dalam berfikir logika. Manjushri pernah mencapai pencerahan namun beliau kembali kedunia dan menjadi bodhisattva untuk menolong semua makhluk serta bersedia menjadi pengikut dan pembantu Hyang Buddha bersama dengan  Bodhisattva lainnya.

Samantabhadra Bodhisattva

Samantabhadra BodhisattvaSedangkan Samantabhadra Bodhisattva mempunyai pelatihan diri agung sempurna yang universal dan kesucian dari kesempurnaan dalam pelatihan diri. Samantabhadra mempunyai 10 ikrar agung yang mulia, yang dapat dijadikan pegangan dalam menjalani pelatihan diri menuju kesempurnaan teragung. Kesepuluh ikrar tersebut adalah :

  1. Menghormati para Buddha
  2. Memuja para tathagata
  3. Memberikan persembahan kepada semua makhluk
  4. Bertobat atas segala karma buruk yang telah diperbuat
  5. Bersimpati atas keberhasilan yang dicapai orang lain
  6. Meminta bimbingan dharma dari para suciwan
  7. Meminta Buddha untuk tinggal dan mengajarkan Dharma didunia
  8. Selalu mempelajari Buddha Dharma
  9. Dapat bergaul dengan semua makhluk
  10. Memberikan patidana kepada seluruh penjuru

Samantabhadra duduk diatas gajah putih yang bertaring 6 sebagai symbol pelaksanaan sad paramitha yang sempurna. Samantabhadra mempunyai kesempurnaan tekad dan pelatihan diri yang agung. Pada umumnya tangan dari Bodhisattva ini memegang giok ruyi sebagai lambang kebijaksanaannya.  Didalam mazhab tantrayana samantabhadra disebut sebagai bodhisattva yang memegang vajra. Pelatihan samantabhadra tertulis secara luas didalam sutra avatamsaka yang merupakan sutra terbesar didalam canon Budhisme Mahayana.

Pesamuan Agung Sukhavati

Pesamuan Agung Sukhavati

Selanjutnya adalah tiga makhluk suci dari surga sukhavati yang dikenal dengan Buddha Amitaba dengan dua bodhisattva pengikutnya : Avalokitesvara dan Mahasthamaprapta bodhisattva. Amitabha memiliki arti cahaya yang tanpa batas disebutkan bahwa cahaya amitabha Buddha keluar dari setiap lubang/pori tubuhnya, kemudian dari cahaya tersebut muncul ribuan Samasambuddha yang mengajarkan Dharma. Atau disebut juga dengan Amitayus yang berarti usia tanpa batas karena Amitabha Buddha sudah berumur jutaan kalpa lamanya. Amitabha pada awal ceritaNya adalah seorang Bhiksu bernama FaZang, karena pelatihan dirinya yang teguh akhirnya dapat mencapai tekadnya untuk menciptakan sebuah tanah Buddha yang penuh dengan kebahagiaan serta dapat mengajarkan dharma kepada para rakyatnya agar dapat mencapai kesempurnaan didalam pelatihan diri. Menurut sutra amitabha Buddha , sukhavati adalah sebuah surga dengan lingkungan yang begitu indah dengan semua kondisi lingkungan yang demikian istimewa, digambarkan suara angin ataupun burung yang sedang berkicau ibarat suara amitabha Buddha yang sedang mengajarkan dharma. Untuk itu jika seseorang mampu terlahir disurga sukhavati dengan tekad dan pelatihan dirinya maka dia akan dapat menyempurnakan pelatihan dirinya dan dapat bertekad kembali kedunia untuk menyelamatkan semua makhluk sesuai dengan kekuatan tekad dan pengembangan hati kebodhiannya.

Avalokitesvara adalah seorang bodhisattva yang terkenal dengan pelatihan dirinya dalam mengembangkan cinta kasih / maîtrikaruna untuk menolong semua makhluk terlepas dari dunia samsara atau penderitaan yang meliputi kehidupannya. Avalokitesvara pada mulanya adalah seorang Buddha namun karena keinginannya untuk menolong semua makhluk akhirnya beliau kembali untuk menolong makhluk-makhluk yang menderita. Referensi dan penjelasan tentang avalokitesvara dan pelatihan dirinya secara lebih detil dapat ditemukan didalam sutra suranggama dan sutra lotus.  Didalam bentuk penjelmaan avalokitesvara bersama amitabha selalu dipasangkan dengan bodhisattva mahasthamaprapta. Keduanya hampir sama, perbedaan yang mendasar adalah pada umumnya avalokitesvara ditempatkan disebelah kanan amitabha sedangkan mahasthamaprapta disebelah kiri. Dibagian kepala avalokitevara, beliau memakai mahkota dengan bagian atasnya adalah rupang amitabha sebagai bentuk penghormatan terhadap gurunya ; lain halnya dengan mahasthamaprapta dibagian mahkota atasnya adalah guci tempat abu orang tuanya sebagai lambang rasa berbakti kepada orangtua dimasa – masa yang telah lampau.

Pesamuan Agung Surga Timur Lazuardi

Pesamuan Agung Surga Timur LazuardiTiga makhluk suci dari surga timur Lazuardi adalah Bhaisajyaguru Buddha , Suryaprabha dan Chandraprabha bodhisattva. Bhaisajyaguru Buddha mempunyai 12 tekad untuk menolong makhluk – makhluk yang mendengar namanya kemudian memuji dan menjalankan pelatihan kebodhian. Diantara tekad tersebut banyak yang meyakini bhaisajyaguru Buddha dapat menyembuhkan penyakit kekotoran batin manusia berupa lobha (keserakahan),dosa (kebencian) dan moha (kebodohan) untuk itu kemudian lebih mengagungkan nama bhaisajyaguru Buddha sebagai Buddha yang menyembuhkan penyakit karma buruk manusia. Dibawah altar Bhaisajyaguru Buddha selalu dikelilingi oleh 12 yaksa yang selalu bertekad untuk melindungi orang – orang yang menjalankan pelatihan diri seperti yang dilakukan oleh Bhaisajyaguru Buddha dalam mencapai kesempurnaan. 12 yaksa adalah pelindung Pintu Dharma Bhaisajyaguru Buddha, mereka adalah panglima yang memimpin 7000 pasukan yaksanya.

Suryaprabha dan Chandraprabha bodhisattva mempunyai jodoh hubungan yang dekat dengan bhaisajyaguru Buddha. Dikisahkan pada masa lampau Bhaisajyaguru Buddha sebelum mencapai pencerahan adalah seorang umat Buddha yang mempunyai 2 orang anak. Beliau mempunyai pelatihan diri yang baik, bertekad menolong semua makhluk yang menderita. Kemudian Buddha pada masa itu menyarankannya untuk merubah nama menjadi “医王” yang berarti raja pengobatan. Kemudian dengan pelatihan diri yang sungguh-sungguh akhirnya mampu mencapai kebodhian dan menjadi Buddha yang kemudian dikenal sebagai Bhaisajyaguru. Kemudian kedua anaknya mengikuti jejak sang ayah yang mencapai kesempurnaan. Mereka bertekad menjadi pendamping yang menjadi pembantu Bhaisajyaguru dalam menolong semua makhluk yang masih diliputi dengan penderitaan dunia samsara. Disebutkan pula setelah Bhaisajyaguru mencapai mahaparinirvana kedua bodhisattva inilah yang akan menggantikannya sebagai Buddha secara bergantian.

Panglima Yaksa

Dua Belas Panglima Yaksa yang pada umumnya dipasang dialtar Bhaisajyaguru Buddha juga dikenal sebagai yaksa yang melindungi 12 shio dari orang-orang yang terlahir pada waktu tersebut. Panglima Yaksa bertekad melindungi ajaran dari Bhaisajyaguru Buddha agar tetap lestari didunia ini dan melindungi mereka yang selalu mengagungkan nama dan menjalankan pelatihan Bhaisajyaguru Buddha.

 Yaksa Nama Shio Keterangan
 Kumbhira 宫毗罗大将

Kumbhira

 

Babi

Mempunyai tubuh dengan sinar  naga emas, melindungi orang yang lahir pada jam 9 – 11 malam hari. Yaksa ini adalah penjelmaan maitreya bodhisattva bertubuh merah api , dalam ekspresi wajah emosi dan memakai mahkota berkepala babi, membawa pedang besar ditangan kanannya.
 Vajra 伐折罗大将

Vajra

 

anjing

Bermakna sebagai Vajra karena memang memegang vajra ditangannya dengan wajah yang tersenyum, sebagai penjelmaan dari mahasthamaprapta bodhisattva, melindungi orang yang lahir pada jam 7 – 9 malam. Tubuhnya berwarna hijau, dalam ekspresi marah dengan rambut panjang dan membawa pedang ditangan kanannya.
 Mihira 迷企罗大将

Mihira/

Mekhila

 

 

Ayam

Penjelmaan dari amitabha Buddha melindungi orang yang terlahir pada jam 5 – 7 sore, memiliki tubuh berwarna kuning dengan mahkota kepala ayam diatasnya, tangan kanan memegang berlian tunggal, tangan kiri menggenggam dibagian pinggang.
 Andira 安底罗大将

Andira

 

Kera

Bermakna seorang panglima yang memegang bintang. Penjelmaan dari avalokitesvara, melindungi orang yang terlahir pada jam 3 – 5 sore. Memiliki warna tubuh warna merah dengan wajah marah dan bermahkota dengan kepala kera, tangan kiri memegang mutiara ratna digenggamannya.
 Majira 頞你罗大将

Majira/Anila

kambing

Memiliki tubuh bersih bersinar seperti ratna/mustika. Adalah Penjelmaan dari deva marici, melindungi orang yang lahir pada jam 1 – 3 sore. Memiliki tubuh berwarna putih dengan wajah emosi , memegang busur panah.
 Sandira 珊底罗大将

Sandira/

samthila

Kuda

Penjelmaan dari Akhasagarbha bodhisattva , melindungi orang yang lahir pada jam 11 – 1 siang. Memiliki tubuh berwarna merah dengan wajah ekspresi marahnya, dengan mahkota berkepala kuda membawa tombak pendek bermata tiga. Beliau mempunyai tubuh penjelmaan sebagai bentuk wanita.
 Indra 因达罗大将

Indra/Indala

Ular

Penjelmaan dari Ksitigarbha Bodhisattva , melindungi orang yang lahir pada jam 9 – 11 pagi. Mempunyai tubuh berwarna merah memakai mahkota dengan kepala ular dengan memegang sebuah tombak kecil.
 Pajra 波夷罗大将

Pajra/Payila

Naga

Merupakan penjelmaan dari Manjushri Bodhisattva , melindungi orang yang lahir pada jam 7 – 9 pagi, memiliki tubuh berwarna merah dengan wajah yang emosi memakai mahkota kepala naga, memegang tombak panjang.
 Makura 摩虎罗大将

Makura /

Mahala

 

Kelinci

Sebagai penjelmaan dari Bhaisajyaguru Buddha melindungi orang yang lahir pada jam 5 – 7 pagi, memiliki tubuh berwarna hijau dengan muka marah dan mahkota kepala kelinci, tangan membawa sebuah kapak.
 Sindura 真达罗大将

Sindura/

Cindala

Harimau

Penjelmaan dari Samantabhadra Bodhisattva, melindungi orang yang lahir pada jam 3 – 5 pagi , memiliki tubuh berwarna kuning dengan mahkota kepala harimau , memegang batu permata dan tongkat ratna / mustika.
 Catura 招杜罗大将

Catura /

Caundhula

 

kerbau

 Penjelmaan dari Vajrapani Bodhisattva melindungi orang yang lahir pada jam 1 – 3 pagi, bertubuh putih dengan muka marah dengan mahkota kerbau dan memegang pedang.
 Vikarara 毗羯罗大将

Vikarara /

Vikala

tikus

Merupakan penjelmaan dari Sakyamuni Buddha yang melindungi orang yang lahir pada jam 11 – 1 malam, memiliki tubuh berwarna hijau dengan wajah marah bermahkota tikus, tangan kanannya memegang tombak dengan tangan kiri memegang bola permata.

 

Artikel Oleh : YM.  Sakya Vaipulya Virya –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *