Kisah Kalayakkhini ( saling balas dendam selama 3 kehidupan )

“Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi.”

Bab I-YAMAKA VAGGA (Syair Berpasangan)
Syair 5 (I:4 Kisah Kalayakkhini)

Cerita asal mula syair ini :

imageAda seorang laki-laki perumah tangga mempunyai istri yang belum memiliki anak ( keturunan ). Karena merasa mandul dan takut diceraikan oleh suaminya, istrinya menganjurkan suaminya untuk menikah lagi dengan wanita lain yang dipilih olehnya sendiri. Suaminya menyetujui dan tak berapa lama kemudian isteri muda itu mengandung.

Ketika isteri pertama itu mengetahui bahwa istri muda ( istri kedua ) sudah hamil, ia menjadi tidak senang. Dia merencanakan rencana jahat untuk menggugurkan janin yang ada di rahim istri muda. Suatu kesempatan sebelumnya, dia memberitahukan ke istri muda bahwa jika mengandung, agar diberitahukan ke dia, karena akan diberikan ramuan yang cocok untuk ibu yang sedang mengandung. Istri muda tidak curiga dan mengabarkan kehamilannya kepada istri pertama dan tidak lama, istri pertama mengirimkan ramuan yang sebenarnya racun untuk menggugurkan janin untuk diberikan ke istri muda, sehingga isteri muda itu pun keguguran.

Demikian pula pada kehamilan yang kedua. istri muda pun masih menuruti nasihat istri pertama. Singkat cerita, janin pada kehamilan istri muda yang kedua juga berhasil digugurkan.

Sebaik apapun, kejahatan ditutupi, toh akan ketahuan juga. Istri muda sempat mengobrol dengan tetangga tentang masalah keguguran yang terjadi 2 kali pada dirinya. Si tetangga menasehati istri muda, jika kali ini hamil lagi, jangan memberitahukan kehamilan anda kepada istri pertama.

Pada kehamilannya yang ketiga, isteri muda itu tidak memberi tahu kepada isteri pertama. Karena kondisi fisik kehamilan itu diketahui juga oleh isteri pertama. Berbagai cara dicoba oleh isteri tua itu agar kandungan madunya itu gugur lagi, yang akhirnya menyebabkan isteri muda itu meninggal pada saat persalinan. Sebelum meninggal, wanita malang itu dengan hati yang dipenuhi kebencian bersumpah untuk membalas dendam kepada isteri tua.

Maka permusuhan itu pun dimulai.

imagePada kelahiran berikutnya, isteri pertama dan isteri muda tersebut terlahir sebagai seekor ayam betina dan seekor kucing. Ayam mati dimangsa kucing.

Kemudian setelah meninggal terlahir kembali, istri tua terlahir sebagai seekor macan tutul dan istri muda seekor rusa betina.Rusa betina mati diterkam macan tutul.

image

Dan akhirnya, istri tua terlahir sebagai seorang wanita perumah tangga di kota Savatthi dan istri muda terlahir sebagai peri yang bernama Kali.

Suatu ketika sang peri (Kalayakkhini) terlihat sedang mengejar-ngejar wanita tersebut dengan bayinya. Ketika wanita itu mendengar bahwa Sang Buddha sedang membabarkan Dhamma di Vihara Jetavana, ia berlari ke sana dan meletakkan bayinya di kaki Sang Buddha sambil memohon perlindungan.

Sedangkan peri tertahan di depan pintu vihara oleh dewa penjaga vihara. Akhirnya peri diperkenenkan masuk, dan kedua wanita itu diberi nasehat oleh Sang Buddha.

Sang Buddha menceritakan asal mula permusuhan mereka pada kehidupan lampau, yaitu sebagai seorang isteri tua dan isteri muda dari seorang suami, sebagai seekor ayam betina dan seekor kucing, sebagai seekor macan tutul dan seekor rusa betina.

Mereka telah dipertemukan untuk melihat bahwa kebencian hanya dapat menyebabkan kebencian yang makin berlarut-larut, tetapi kebencian akan berakhir melalui persahabatan, kasih sayang, saling pengertian, dan niat baik.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair ke 5 berikut ini:

“Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian.
Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci
Inilah satu hukum abadi.”

Kedua wanita itu akhirnya menyadari kesalahan mereka, keduanya berdamai, dan permusuhan panjang itu berakhir.

Sang Buddha kemudian meminta kepada wanita itu untuk menyerahkan anaknya untuk digendong peri. Takut akan keselamatan anaknya, wanita itu ragu-ragu. Tetapi, karena keyakinannya yang kuat terhadap Sang Buddha ia segera menyerahkan anaknya kepada peri.

Peri menerima anak itu dengan hangat. Anak itu dicium dan dibelainya dengan penuh kasih sayang, bagaikan anaknya sendiri. Setelah puas, diangsurkan ke ibunya kembali.

Demikianlah, pada akhirnya mereka berdua hidup rukun dan saling mengasihi.

image

2 Comments

Add Yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *