Pangeran Nanda ( saudara tiri Pangeran Siddharta )

“Bagaikan hujan, yang dapat menembus rumah beratap tiris. Demikian pula nafsu, akan dapat menembus pikiran yang tidak dikembangkan dengan baik.”

“Bagaikan hujan, yang tidak dapat menembus rumah beratap baik. Demikian pula nafsu, tidak dapat menembus pikiran yang telah dikembangkan dengan baik.”

Bab I-YAMAKA VAGGA (Syair Berpasangan)
Syair 13 & 14 (I:9 Kisah Pangeran Nanda)

Cerita asal mula syair ini :

Suatu ketika Sang Buddha menetap di Vihara Veluvana, Rajagaha. Waktu itu ayah-Nya, Raja Suddhodana, berulangkali mengirim utusan kepada Sang Buddha, meminta beliau mengunjungi kota Kapilavatthu. Memenuhi permintaan ayahnya, Sang Buddha mengadakan perjalanan dengan diikuti oleh sejumlah besar arahat.

Sang Buddha akhirnya bertemu kembali dengan Ayah-Nya serta mengajarkan dan menceritakan beberapa cerita hingga beliau berhasil mencapai tingkat kesucian.

Pada hari ketiga, di istana berlangsung upacara pernikahan Pangeran Nanda.

Pangeran Nanda adalah seorang saudara tiri Pangeran Siddhattha, yaitu anak dari Putri Pajapati, adik dari Ratu Maya. Semasa kecil, setelah Ratu Maya meninggal, Pangeran Siddharta dirawat dan dibesarkan oleh Pajapati. Karena Pangeran Siddharta, putra mahkota dari kerajaan Sakya, telah menjadi seorang pertapa, maka Raja Suddhodana ingin menobatkan Pangeran Nanda yang berumur 35 tahun, sebagai putra mahkota menggantikan kedudukan Pangeran Siddhattha. Pada waktu yang sama, Raja Suddhodana ingin pula menikahkan Pangeran Nanda dengan Putri Janapada Kalyani dan memberikan sebuah istana untuk tempat tinggal kedua mempelai.

Sang Buddha pergi ke sana untuk menerima dana makanan (pindapatta), dan memberikan mangkok-Nya kepada pangeran Nanda. Kemudian Sang Buddha pergi meninggalkannya tanpa meminta kembali mangkok-Nya.

image

Sang Buddha berjalan ke luar istana dengan diikuti Pangeran Nanda yang membawa mangkuk Sang Buddha. Pangeran Nanda berpikir, “Sang Bhagava akan mengambil kembali mangkuk-Nya di pintu istana.” Tetapi Sang Buddha terus berjalan ke luar. Kemudian Pangeran Nanda berpikir, “Sang Buddha akan mengambil mangkuk-Nya di pintu pagar istana.”

Mempelai wanita, Putri Janapada Kalyani, melihat suaminya mengikuti Sang Buddha dan berpikir, “Suami saya mungkin pergi ke vihara dan akan pamitan setelah tiba di sana.” Karena itu Putri berpesan, :”Kekasihku, jangan pergi terlalu lama, cepat-cepatlah pulang.”

Tiba di vihara, Pangeran Nanda mengembalikan mangkuk kepada Sang Buddha. Sang Buddha kemudian bertanya, “Nanda, apakah engkau mau menjadi bhikkhu?” Pangeran Nanda menjawab, “Mau Bhante.” Sang Buddha kemudian mentahbiskannya menjadi bhikkhu.

Setelah ditahbiskan, Nanda merasa menyesal dan menderita sekali karena terus memikirkan istrinya yang cantik. Hal ini dilihat oleh bhikkhu lain yang kemudian menegurnya, “Mengapakah Anda kelihatannya begitu sedih?”

Saudara, aku sebenarnya menyesal. Aku tidak menyukai kehidupan sebagai bhikkhu. Aku ingin melepaskan jubah dan pulang ke istana,” jawab Nanda. Bhikkhu ini kemudian pergi melaporkan peristiwa tersebut kepada Sang Buddha.

Mengetahui hal tersebut, Sang Buddha dengan kemampuan batin luar biasa, memperlihatkan kepada Nanda beberapa dewi yang cantik dari surga Tavatimsa, jauh lebih cantik daripada putri Janapadakalyani.

Sang Buddha bertanya kepada Nanda, “Siapakah yang lebih cantik, putri Janapadakalyani atau para dewi yang berdiri di hadapanmu itu?”

image

“Tentu saja mereka jauh lebih cantik dibandingkan dengan putri Janapadakalyani,” jawab Nanda.

Sang Buddha berkata lagi kepada Nanda, “Apabila engkau tekun dalam mempraktekkan Dhamma, Aku berjanji untuk membantumu memiliki dewi-dewi itu.”

“Kalau begitu, dengan segala senang hati aku ingin terus menjadi bhikkhu,” jawab Nanda.

Bhikkhu-bhikkhu yang lain menertawakan Nanda, dengan berkata bahwa ia seperti orang bayaran, yang mempraktekkan Dhamma demi memperoleh wanita cantik, dan sebagainya.

Nanda merasa sangat tertekan dan malu. Karena itu dalam kesendirian, ia mencoba dengan keras mempraktekkan Dhamma, dan akhirnya mencapai tingkat kesucian arahat.

Sebagai seorang arahat, batinnya bebas dari semua ikatan dan keinginan. Dan Sang Buddha juga bebas dari janji-Nya kepada Nanda. Semua ini telah diketahuiNya sejak awal.

Bhikkhu-bhikkhu yang lainnya, yang semula mengetahui bahwa Nanda tidak gembira menjalani hidup sebagai bhikkhu, kembali bertanya bagaimana ia bisa mengatasinya.

Nanda menjawab, bahwa sekarang ia tidak lagi terikat dengan kehidupan berumah-tangga. Mereka berpikir Nanda tidak berkata yang sebenarnya. Karena itu mereka mencari keterangan perihal masalah itu kepada Sang Buddha, dengan menyatakan keragu-raguan mereka.

Sang Buddha menjelaskan kepada mereka bahwa sebelumnya, kenyataan alamiah Nanda, sama seperti atap rumah yang bocor, tetapi sekarang rumah itu telah dibangun dengan atap rumah yang baik.

Penjelasan itu diakhiri dengan syair 13 dan 14 berikut ini:

“Bagaikan hujan,
yang dapat menembus rumah beratap tiris.
demikian pula nafsu,
akan dapat menembus pikiran yang tidak dikembangkan dengan baik.”

“Bagaikan hujan,
yang tidak dapat menembus rumah beratap baik.
demikian pula nafsu,
tidak dapat menembus pikiran yang telah dikembangkan dengan baik.”

image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *