Kisah Dua Bhikkhu yang Bersahabat

“Waspada di antara yang lengah, berjaga di antara yang tertidur, orang bijaksana akan maju terus, bagaikan seekor kuda yang tangkas berlari meninggalkan kuda yang lemah di belakangnya.”

Bab II-APPAMADA VAGGA (Kewaspadaan)
Syair 29 (II: 6 Kisah Dua Bhikkhu yang bersahabat )

Cerita asal mula syair ini :

imageDua orang bhikkhu, setelah memperoleh suatu objek meditasi dari Sang Buddha, pergi ke vihara yang letaknya di dalam hutan.

imagePagi harinya, bhikkhu yang pertama mengambil kayu bakar dan memasak. Sedangkan bhikkhu kedua memulai meditasinya. Malamnya bhikkhu pertama berbincang dengan para bhikkhu juniornya, sedangkan bhikkhu kedua tetap bermeditasi dengan tekun.

imageMeskipun sempat diingatin kembali oleh bhikkhu kedua untuk berlatih dengan panduan meditasi dari Sang Buddha namun tetap tidak digubris oleh bhikkhu pertama, melanjutkan menghangatkan tubuh dengan api sambil berbincang dengan bhikkhu junior lainnya sehingga menghabiskan waktunya.

Bhikkhu kedua pun melanjutkan meditasinya dengan penuh kewaspadaan. Dia berjalan sambil bermeditasi selama waktu-malam pertama, beristirahat selama waktu-malam terakhir sepanjang malam.

image

Bhikkhu pertama pun menyangka bhikkhu kedua telah pergi tidur, dan menuduh bhikkhu kedua hanya masuk ke hutan untuk bermalas-malasan dan tidur. Malah akhirnya ia sendiri pun tidur.

Namun sebenarnya bhikkhu kedua masih gigih berlatih, setelah istirahat, ia berlatih lagi. Kemudian, karena rajin dan selalu waspada, bhikkhu kedua ini mencapai tingkat kesucian arahat dalam waktu singkat.

image

Pada akhir masa vassa, keduanya pergi untuk menghormat Sang Buddha, dan Beliau menanyakan bagaimana mereka menghabiskan waktu selama bervassa.

Bhikkhu pemalas dan lengah menjawab, bahwa bhikkhu kedua hanya menghabiskan waktunya dengan berbaring dan tidur. Sang Buddha kemudian bertanya, “Bagaimana dengan kamu sendiri?” Jawabnya, bahwa dia selalu duduk menghangatkan tubuh dengan api pada waktu-malam pertama, dan kemudian duduk tanpa tidur.

Tetapi Sang Buddha mengetahui dengan baik, bagaimana kedua bhikkhu tersebut telah menghabiskan waktu, maka Beliau berkata kepada bhikkhu yang malas, “Tidak hanya kamu malas dan lengah, malah mengatakan bahwa kamu rajin dan selalu waspada, bahkan kamu telah mengatakan bahwa bhikkhu yang kedua kelihatan malas dan lengah, meskipun dia rajin dan selalu waspada. Kamu seperti seekor kuda yang lemah dan lamban dibandingkan dengan anak-Ku yang seperti kuda yang kuat dan tangkas.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 29 berikut ini:

“Waspada di antara yang lengah,
berjaga di antara yang tertidur,
orang bijaksana akan maju terus,
bagaikan seekor kuda yang tangkas berlari meninggalkan kuda yang lemah di belakangnya.”

image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *